May 19th, 2013
Kalau memang keberuntungan seseorang itu ada jatahnya, boleh kuambil jatah beruntungku sekali ini saja? Untuk sebuah tes yang jika aku harus mengulangnya, aku sudah tidak sanggup lagi.
Tapi semoga yang kemarin itu untuk yang terakhir kali :’)
Bahkan dengan orang terdekat pun, kadang masih ada kata yang tercekat. Bukan tak percaya, atau tak ingin bercerita. Terlebih karena belum siap, dan takut pengakuan akan merusak apa yang sudah didekap.
Raniafiska Aditya

Yang Ternyaman Tak Selalu Bisa Dipamerkan

Jangan mau cuma jadi alas kaki yang dipakai sembunyi-sembunyi.


Tau sandal jepit?

Sandal itu terasa nyaman saat digunakan bukan? Tak perlu risau akan rasa sakit atau lelah saat menggunakannya.

Tapi apa kamu bisa menggunakannya keluar? Tidak!

Saat kamu keluar untuk bertemu orang-orang, entah untuk kuliah, bekerja, atau sekedar berjalan-jalan, kamu tak bisa menggunakan sandal ternyamanmu. Kamu akan lebih memilih sepatu yang layak digunakan. High heels untuk perempuan, atau sepatu cats casual yang menjadi trend sekarang untuk lelaki. Terlepas dari rasa sakit ataupun tak nyaman saat menggunakannya. Pada dasarnya kamu tak mungkin memakai sandal ternyamanmu saat keluar. Entah tak bisa, tak mau, atau yang lain. Tapi saat kamu terlepas dari gemerlapnya dunia kamu akan melepas sepatu terbaikmu dan mencari kembali sandal ternyamanmu. Selalu seperti itu.

Dan mungkin begitulah. Aku seperti sandal itu. Dan dia, wanita itu seperti sepatu terbaikmu. Kamu bisa memamerkan wanitamu. Dia yang seharusnya ada dan diakui orang. Tetapi saat kamu lelah kamu akan mencari sandal ternyamanmu, aku. Sekedar berkeluh kesah, sekedar singgah sejenak lalu kemudian beranjak.

Ya, jika kamu mengalaminya, kata-kata bercetak tebal di atas itu akan sangat menampar hati.

Aku bodoh, am I?

Nyatanya saat kau kembali menampakkan diri, hatiku masih berdesir dan menyemburkan rona di pipi. Ya, aku masih pelan-pelan merangkak pergi.
Tapi semoga langkahku tak berhenti :) 
Peranku masih tetap sama, dengan lawan main yang berbeda. Peran yang tak pernah berada di posisi pertama. Mengapa situasinya harus begini adanya?
Me

Tentang Rasa

Yang kali ini bukan cerita kesedihan. Hanya ingin menulis, tentang rasa. Rasa yang semakin kuat walaupun sepertinya ditentang semesta.

Aku hanya ingin menulis tentang aku dan kamu, tak peduli semua di sekitar kita. Aku hanya ingin menulis yang bahagia saja, tak peduli seberapa panjang antrian kesedihan di belakangnya.

Betapa unik cara kita didekatkan semesta. Walaupun harus ada seseorang yang diharuskan pergi. Aku tak kan pernah lupa. Kemudian ada rasa membutuhkan. Itu semakin mendekatkan kita. Bukankah rasa bisa muncul begitu saja dari kebersamaan? Dan aku juga tak menyangka kebersamaan kita bisa menjelma rasa yang kata orang indah. Di dalam hatiku tentu saja. Dalam hatimu? Entah, aku tak suka menerka nerka.

Tak pernah ada kata rindu antara kita, pun cinta. Tapi di dalam kita tersemat perhatian perhatian yang keluar begitu saja. Di dalam kita ada cerita-cerita yang tak kau ceritakan pada semesta. Di dalam aku ada perasaan mencari saat kamu dan kabarmu tidak menampakkan diri.

Ah entahlah. Entah kedekatan kita ini hanya kebetulan, atau rangkaian kebetulan yang bermakna. Tapi tak bisa berbohong, jika aku ditanya apa harapanku tentang kita, tentu saja aku berharap hubungan kita menjadi lebih dari yang sudah ada. Tapi itu hanya harapan manusia, Biarkan tangan Tuhan yang bekerja. Bukankah Dia tahu yang membuat umatnya bahagia? :)

hati dan otak

  • A: Kenapa aku selalu merasakan perih? Kenapa tak ada yang bisa mengerti, tentang cemburu dan sakit hati?
  • B: Kamu tak pernah menceritakan apapun. Lantas bagaimana mereka bisa tau?
  • A: Tapi bukankah katanya orang-orang terdekat bisa tau tanpa kita harus bercerita?
  • B: Tak selalu seperti itu. Tetap saja mereka bukan mind reader. Jangan manja!
  • A: Tapi aku tak bisa. Lebih tepatnya belum bisa.
  • B: Yasudah kalau begitu jangan mengharap lebih. Ayolah, kamu sudah pernah mengalami yang seperti ini sebelumnya. Segalanya lebih baik saat kamu bercerita bukan? Setidaknya bebanmu berkurang separuhnya.
  • A: Tak bisakah mereka membaca tanda tanpa aku harus berucap kata?
  • B: Ah terserah! Kamu sendiri yang membuatnya susah, dan tanpa sadar menambah beban yang sudah ada.
  • A: .....................
  • *Kira-kira seperti itulah terjemahan percakapan otak dan hati. Membuat dilema. Dan yang bisa dilakukan diri, hanya diam dan membuat pemakluman.*

Rasa ini Sama

Rasa ini sama. Rasa gengsi terhadap pengakuan rasa, terlebih karena tak ingin merusak yang sudah ada.

Rasa ini sama. Rasa lelah karena tak bisa bercerita bahkan terhadap orang-orang terdekat.

Rasa ini sama. Rasa cemburu yang tak terungkap, rasa butuh yang tak bisa dikatakan.

Rasa ini sama. Rasa perih karena merasa dipermainkan, diberi harapan. Mungkin rasa itu akan tak ada jika aku tak meanggap kamu spesial.

Rasa ini sama. Rasa kecewa karena selalu menjadi yang kedua.

Ya, rasa ini sama. Hanya saja sekarang dengan orang yang berbeda.

Dan harusnya aku sudah bisa belajar dari kesalahan. Harusnya aku tak mengulangi kebodohan yang sama. Tapi nyatanya tak begitu adanya. Rasa ini masih sungguh menyiksa. Entahlah.

Yang belum sama adalah akhirnya. Apakah akan lebih bahagia atau lebih menderita. Dan sekali lagi jawabannya tetap entah.

Siapa bilang lebih mudah menjadikan sahabat menjadi cinta daripada cinta menjadi sahabat?
Ceritaku tak demikian.
May 18th, 2013